Sidoarjo / Barra22.com – Sebanyak 431 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mendapat perawatan setelah mengalami gejala keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9/2026). Para santri mengonsumsi menu berupa nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan apel sekitar pukul 13.00 WIB. Beberapa jam kemudian, keluhan seperti mual, sakit perut, pusing, dan lemas mulai muncul hingga para santri harus dievakuasi ke rumah sakit.

Keluhan mulai banyak dilaporkan setelah salat Asar atau sekitar pukul 16.00 WIB. Karena jumlah santri yang mengalami keracunan terlalu banyak dan kapasitas unit kesehatan sekolah (UKS) tidak mencukupi, pihak pesantren menggunakan ambulans dan kendaraan operasional untuk membawa para santri ke rumah sakit rujukan. Sebagian korban yang kondisinya telah stabil diperbolehkan menjalani rawat jalan. Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo membuka posko penanganan di lingkungan pesantren.
Penelusuran awal menunjukkan makanan yang dikonsumsi para korban berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin. Dapur tersebut setiap hari memasok sekitar 2.800 porsi MBG ke sejumlah sekolah dan pesantren, dengan sekitar 1.000 porsi dikirim ke Ponpes Manbaul Hikam. Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, keluhan serupa juga ditemukan di sekolah lain yang menerima makanan dari dapur tersebut.
Kasus keracunan ini meluas dengan ditemukannya laporan dari 19 lembaga pendidikan di Kecamatan Tanggulangin yang menerima pasokan SPPG Kalitengah. Lembaga yang terdampak berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA). Kondisi tersebut membuat dugaan masalah pada rantai penyediaan makanan menjadi bagian penting dalam proses investigasi.
Emil menyebut, SPPG Kalitenga telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sementara sejumlah tenaga pengolah makanan juga sudah memiliki sertifikasi penjamah makanan dan sertifikasi halal. Meski begitu, Emil menjelaskan sertifikasi tersebut tidak sepenuhnya menutup kemungkinan terjadinya persoalan dalam proses produksi maupun distribusi makanan. “Tetapi tetap saja dengan sarpras dan sistem, masih ada ruang kalau misalnya katakanlah bahan makanannya dari awalnya, atau timing pelaksanaan menyimpang dari SOP yang diverifikasi, itu bisa saja menyebabkan masalah,” ujar Emil.
Badan Gizi Nasional (BGN) langsung menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah setelah menerima laporan kejadian tersebut. Sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo dan kepolisian untuk menjalani pemeriksaan laboratorium, sementara keputusan mengenai penghentian sementara atau permanen akan ditentukan setelah evaluasi dan hasil uji keluar. Di sisi lain, Emil memastikan kabar mengenai adanya korban meninggal dunia tidak benar dan seluruh santri yang terdampak masih mendapat penanganan medis.
(Red)




