Lamongan / Barra22.com– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lamongan terus mengembangkan program pembinaan yang memberikan manfaat nyata bagi warga binaan sekaligus mendukung ketahanan pangan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan panen raya padi di Sarana Asimilasi Edukasi (SAE) Lapas Lamongan, Kamis pagi (20/8/2026), yang melibatkan jajaran Lapas dan warga binaan peserta program asimilasi.

Kepala Lapas Kelas IIB Lamongan, Andi Hasyim, mengatakan bahwa panen raya tersebut menjadi bukti bahwa program pembinaan di Lapas dapat diarahkan pada kegiatan produktif yang memiliki manfaat jangka panjang.
Kegiatan pertanian di SAE bukan sekadar menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan, pengalaman kerja, serta nilai-nilai kemandirian yang dapat mereka terapkan setelah kembali ke masyarakat,” ujar Andi Hasyim.
Kegiatan panen diawali dengan pemotongan padi secara simbolis menggunakan sabit oleh Kalapas Lamongan bersama jajaran. Prosesi tersebut sekaligus menandai dimulainya proses pemanenan tanaman padi yang telah melalui rangkaian perawatan dan pemeliharaan di lahan pertanian SAE.
SAE Lapas Lamongan memiliki lahan persawahan sekitar 1,8 hektare yang dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian produktif. Lahan tersebut menjadi salah satu sarana pembinaan bagi warga binaan yang telah memenuhi persyaratan untuk mengikuti program asimilasi di luar tembok Lapas.
Dalam pengelolaannya, warga binaan tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi dilibatkan secara langsung dalam berbagai tahapan kegiatan pertanian. Mulai dari proses pemeliharaan tanaman, pengawasan pertumbuhan padi, hingga pelaksanaan panen dilakukan sebagai bagian dari pengalaman kerja yang dapat membangun keterampilan praktis.
Menurut Andi Hasyim, pola pembinaan melalui sektor pertanian memiliki nilai strategis karena memberikan ruang kepada warga binaan untuk belajar sekaligus menghasilkan sesuatu yang bernilai. Proses tersebut diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pidana.
“Yang kami bangun bukan hanya hasil pertaniannya, tetapi juga karakter dan kesiapan warga binaan. Mereka belajar bagaimana bekerja secara disiplin, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, menjaga kerja sama, serta memahami proses bahwa sebuah hasil membutuhkan ketekunan dan konsistensi,” jelasnya.
Panen raya padi tersebut juga menjadi bagian dari upaya Lapas Lamongan dalam mendukung 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada sektor kemandirian pangan. Pemanfaatan lahan SAE menjadi langkah konkret untuk mengoptimalkan aset dan sumber daya yang tersedia agar dapat menghasilkan produk pertanian sekaligus menunjang pelaksanaan pembinaan.
Program pertanian di SAE juga memberikan gambaran bahwa pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan selama warga binaan berada di dalam Lapas, tetapi turut mempersiapkan mereka agar memiliki kemampuan untuk kembali menjalani kehidupan secara produktif di tengah masyarakat.
Keterampilan pertanian yang diperoleh selama mengikuti program asimilasi diharapkan dapat menjadi bekal bagi warga binaan setelah memperoleh kebebasan. Dengan pengalaman tersebut, mereka memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan serupa secara mandiri, bekerja di sektor pertanian, maupun memanfaatkan keterampilan sebagai modal membuka usaha.
Kalapas Lamongan menambahkan bahwa pihaknya akan terus melakukan pengembangan terhadap kegiatan pertanian di SAE agar semakin produktif dan berkelanjutan.
“Kami akan terus berupaya mengembangkan program ini. Harapannya, SAE tidak hanya menjadi tempat kegiatan pertanian, tetapi benar-benar menjadi ruang edukasi dan pembentukan kemandirian bagi warga binaan. Dengan begitu, hasilnya bisa dirasakan secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Pelaksanaan panen raya tersebut sekaligus memperlihatkan sinergi antara program ketahanan pangan dan pembinaan warga binaan. Satu sisi, lahan produktif dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan pangan, sementara di sisi lain warga binaan memperoleh pengalaman langsung yang dapat menunjang kesiapan mereka untuk kembali ke lingkungan sosial
Lapas Lamongan berkomitmen menjadikan kegiatan pertanian sebagai salah satu instrumen pembinaan yang terus dikembangkan. Melalui pengelolaan SAE secara optimal, diharapkan tercipta ekosistem pembinaan yang produktif, edukatif, dan berorientasi pada kemandirian.
Panen raya padi di lahan SAE pun bukan sekadar momentum memetik hasil pertanian, melainkan menjadi simbol dari proses pembinaan yang menanamkan kerja keras, tanggung jawab dan kemandirian.
Dari lahan yang dikelola bersama, Lapas Lamongan berupaya menghadirkan bekal keterampilan agar warga binaan dapat kembali ke masyarakat dengan lebih siap, produktif, dan memiliki harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik
(Red)




